
Lazada.com atau lebih mudahnya Lazada, memulai bisnis online-nya tiga tahun lalu. Waktu itu Lazada hanya mempunyai satu gudang penyimpanan barang yang ukurannya hanya seluas apartemen studio. Sekarang, di Cakung, Jakarta Timur, Lazada sudah memiliki gudang seluas 12.000 meter persegi.
Sebuah perkembangan yang patut diperhitungkan, jika mengingat dalam mengembangkan bisnisnya, Lazada harus bersaing dengan kompetitor-kompetitor lain yang telah lebih dahulu berbisnis eceran online di Indonesia.
Majalah The Economist Edisi 7 Maret 2015, mengulas tentang bisnis e-commerce di Asia Tenggara. Menurut catatan The Economist,
di seluruh kawasan Asia Tenggara, nilai belanja melalui internet masih
kurang dari 1 persen dari keseluruhan transaksi yang ada.
Padahal, kepadatan penduduk di Asia Tenggara dua kali kepadatan
penduduk Amerika Serikat. Fakta ini menunjukkan potensi yang sangat
besar bagi bisnis eceran online.

Satu hal yang menjadi keyakinan perusahaan seperti Lazada adalah meluasnya penggunaan gadget dan telepon pintar hingga ke pelosok kawasan. Fenomena ini seiring sejalan dengan tumbuhnya kelas menengah baru. Kelas menengah baru menjanjikan ceruk pasar berlipat dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Menurut Frost & Sullivan, konsultan pasar (marketing consultant)
dari California, Amerika Serikat, pada 2018 mereka memperkirakan pasar
kelas menengah baru akan bertambah hingga lima kali lipat.
Sejak diluncurkan di tahun 2012 hingga saat ini, Lazada mengklaim
telah berada di enam negara Asia Tenggara. Tentu klaim ini sangat
impresif. Hingga akhir tahun lalu, sepak terjang Lazada relatif belum
mendapat tantangan berarti dari raksasa-raksasa e-commerce seperti Amazon di Amerika Serikat, Alibaba di China, dan Rakuten di Jepang.
Lazada adalah kreasi Rocket Internet, sebuah perusahaan yang tumbuh berkembang dari markasnya di Berlin, Jerman. Tak heran, Chief Executive Officer-nya bernama Magnus Ekbom, nama berbau peranakan Turki-Jerman yang bahkan baru berumur 20-an tahun.
Kuatnya bau Jerman di Rocket Internet juga bisa dilihat pada sosok Chief Commercial Officer mereka yang bernama Renee Jenseen dan Chief Marketing Officer
bernama Sebastian Sieber. Rocket Internet adalah investor sekaligus
perusahaan inkubator yang tengah berjuang menguatkan dominasi terhadap
pasar-pasar negara berkembang.
Rocket Internet saat ini memegang kepemilikan 24 persen saham Lazada.
Jumlah itu dilengkapi dengan gelontoran 600 juta dolar AS dari para
investor seperti Tesco, perusahaan jual beli kelontong dari Inggris dan
Temasek, investor pendanaan raksasa dari Singapura. Jika digabung, modal
yang dimiliki oleh Rocket Internet bisa mencapai 1,3 miliar dolar AS,
yang menjadikan mereka sebagai perusahaan berbasis teknologi internet
paling berani.
Ciri khas perusahaan besutan Rocket Internet adalah para eksekutifnya
yang rata-rata ekspatriat muda dari Eropa dengan latar bisnis keuangan
dan konsultasi. Baru pada lapis keduanya, seperti posisi wakil direktur marketing
dan lainnya, mereka merekrut tenaga-tenaga lokal dari lowongan terbuka.
Ini untuk memastikan mereka mendapatkan orang dengan kualitas terbaik.
Walau begitu, Lazada dengan segenap pasukannya yang mentereng
sepertinya masih berada pada tahap buang-buang duit alias merugi.


Dalam
paruh pertama 2014, kurun waktu mereka mulai mencatatkan pemasukan saja,
Lazada merugi hingga 50 juta dolar AS. Itu belum dipotong bunga, pajak,
dan penyusutan. Namun, laba mereka ternyata sudah mencapai angka 60
juta dolar AS. Sebuah angka yang tentu sangat menggiurkan bagi
investor-investor pesaing.
Banyak kalangan mencatat bahwa Lazada dengan segala sepak terjangnya
yang cukup agresif, tak lebih dari perusahaan peniru Amazon. Bentuk
situsnya memang sangat mirip dengan Amazon, hanya berbeda di pilihan
warna menu navigasi.
Padahal, kata Magnus Ekbom, penilaian semacam itu terkesan meremehkan
kemampuan Lazada dalam menaklukkan pasar yang unik seperti di Thailand,
Indonesia, Filipina, Malaysia dan Vietnam.
“Pasar online di Asia Tenggara jauh lebih “tricky” daripada pasar di Amerika dan Eropa,” kata Magnus.
Variasi budaya online dan penggunaan media sosial di
Indonesia sangat beragam. Sesuatu yang tidak bisa dibayangkan orang
Eropa atau Amerika bahkan sangat disukai di Indonesia. Contoh, fenomena
“broadcast” atau pamer selebaran digital dengan aneka tema yang jarang
atau sulit ditemukan di sana.
“Keanekaragaman wilayah di Asia Tenggara tentu memerlukan sebuah
situs yang isi dan penawarannya sesuai dengan ragam budaya dan bahasa,
lengkap dengan aturan-aturan adat yang berlaku,” sambung Magnus.
Tantangan terbesar buat Lazada sesungguhnya adalah perkara pembayaran
dan pengiriman barang. Saat ini, kurang dari sepersepuluh orang di Asia
Tenggara yang memiliki kartu kredit. Dalam jumlah yang sedikit itu,
mereka pun enggan menggunakannya untuk belanja online. Biasanya mereka takut penipuan ataupun penyalahgunaan.
Mau tidak mau, Lazada harus melayani pembeli yang memilih untuk
membayar barang yang dikirimkan langsung ke rumah. Harap maklum, layanan
pos dan kargo di Asia Tenggara masih jauh dari memuaskan. Apalagi jika
dibandingkan dengan luasnya kepulauan Indonesia hingga Filipina.
Hingga kini, sepertiga dari barang yang harus dikirimkan Lazada ke
para pembeli harus diantarkan menggunakan sepeda motor dan mobil box.
Sisanya, mereka membangun kemitraan dengan perusahaan kurir lokal
(ojek) seperti Go Jek di Indonesia dan perusahaan-perusahaan kurir
lainnya. Hingga kini, di Asia Tenggara, Lazada berani mengklaim telah
beroperasi di lebih dari 80 kota.
Kedatangan para raksasa
Pertumbuhan Lazada akhirnya memunculkan kompetitor tangguh. Pada 25
Februari 2015 lalu, Grup Lippo memunculkan situs MatahariMall. Ini
merupakan lapak online Mall Matahari yang tersebar di seluruh Indonesia.
Di sisi lain, perusahaan layanan pesan di smartphone seperti Line dari Korea Selatan bertransformasi menjadi gerai jualan online
di Thailand. Bulan Oktober 2014 lalu, Softbank, konglomerat internet
dan selular dari Jepang bersama dengan Sequoia Capital, investor dari
Amerika Serikat, telah menanamkan investasi sebesar 100 juta dolar AS ke
pesaing utama Lazada di Indonesia, yakni Tokopedia.
Sebagai informasi, peringkat Tokopedia di situs pemeringkat Alexa masih nomor satu dalam e-commerce
di Indonesia, mengungguli Lazada yang mengekor di belakangnya. Namun
sesungguhnya, tantangan terbesar bagi Lazada justru datang dari luar
kawasan.
Raksasa seperti Amazon ternyata sudah membuka layanan khusus bagi tukang belanja online
dari Asia Tenggara, yang cukup sabar menunggu kiriman barang dari
Amerika Serikat. Februari lalu, Alibaba ternyata telah membuka
Aliexpress di Indonesia untuk memperlancar kiriman barang dari China.
Akhir kata, Asia Tenggara mungkin masih menjanjikan potensi bagi raksasa eceran online
dunia untuk hidup bersama. Namun, ketatnya persaingan dan tantangan
lokal, bakal membuat para raksasa itu bertarung sengit dan saling
mengalahkan.
Masih segar dalam ingatan tentang situs Berniaga.com dan
Tokobagus.com, ternyata nasib mereka harus berakhir dalam pelukan
OLX.com yang eksistensinya bahkan masih dalam pertaruhan.*
KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل
ReplyDeleteKAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل
KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل
http://suplierperlengkapanmiliter.blogspot.in/2015/12/combat-shirt.html
ReplyDelete